January 16, 2022

Usai Tetapkan 2 Tersangka Kasus Dana Bos Seluma, Kejati Periksa Puluhan Kepsek

BDKLIK.com, – Tim penyidik tindak pidana khusus Kejaksaan Tinggi Bengkulu memeriksa puluhan Kepala Sekolah SD dan SMP Kabupaten Seluma berkaitan dengan kasus dugaan korupsi dana Bos Afirmasi Non Fisik tahun 2020 pada Dinas Pendidikan Seluma senilai Rp 6,1 miliar lebih yang telah menjerat dua orang tersangka yakni Emzaili Hambali selaku mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Seluma dan Filya Yudiati Asmara yang merupakan menantu Kepala Dinas Pendidikan Seluma.

Pemeriksaan tersebut merupakan rangkaian penyidikan lanjutan yang dilakukan tim penyidik tindak pidana khusus Kejaksaan Tinggi Bengkulu pasca menetapkan dua orang tersangka yang merugikan negara Rp 500 juta lebih berdasarkan audit BPKP.

Pemeriksaan di Aula Kantor Kejaksaan Negeri Seluma pada Kamis 13 Januari 2022 ini, penyidik juga memeriksa Mantan Kabid Kurikulum dan Kesiswaaan Dinas Pendidikan Seluma.

Kepala Sekolah SD 49 Seluma, Sutrisno S.Pd yang turut diperiksa saat diwawancarai mengatakan, pemeriksaan terhadap dirinya berkaitan dengan dugaan korupsi dana Bos afirmasi nonfisik tahun 2020.

“Iya kami di panggil untuk dimintai keterangan atas dugaan penyalahgunaan dana Bos afirmasi nonfisik tahun 2020,” tegas Sutrisno

Penyidik mempertanyakan akan mekanisme dalam pengadaan barang barang elektronik berupa laptop, printer serta peralatan Prokes. Namun, realisasinya, disarankan dan di arahkan oleh dinas termasuk anggaran setiap unitnya.

“Kita di arahkan oleh Diknas dan hanya menerima barang saja dari Diknas seluruhnya yang mengatur tersebut,” tutup Sutrisno.

Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu, Agnes Triani, SH.MH membenarkan terkait pemeriksaan yang dilakukan tim penyidik Pidsus Kejati Bengkulu tersebut.

“Diulang lagi pemeriksaan, karena tahapnya sudah berbeda,” kata Agnes Triani.

Diketahui, dalam kasus ini, penyidik telah menerima uang titipan dari tersangka dua kali, yang pertama senilai Rp 300 juta dan yang kedua sebanyak Rp 282.150.000. Penitipan itu dipergunakan sebagai uang pengganti kerugian negara.

Diberitakan sebelumnya, dalam kasus ini, Kajati Bengkulu Agnes Triani sebelumnya membeberkan peran kedua tersangka dalam kasus tersebut. Kajati menyebutkan, tersangka Kadis Diknas memanfaatkan dana tersebut dalam hal penyediaan alat belajar komputer melakukan mark up harga.

“Seharusnya Kepala Sekolah yang membeli alat itu sendiri, tetapi difasilitasi oleh Kepala Dinas sehingga mengambil keuntungan dari sana,” kata Kajati.

Sementara, tersangka Filya Yudiati Asmara yang menghubungkan pihak penyedia jasa komputer dan melakukan pembelian, tersangka juga menerima uang hasil mark up.

“Sebenarnya harga itu mereka tetapkan sesuai dengan DIPA yang ada itu Rp 13 juta, tetapi oleh mereka dibeli dengan harga Rp 8,5 juta,” jelas Kajati.

Kajati menyampaikan, tersangka dijerat Pasal 2 dan 3 undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. (461)

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com