September 29, 2020

Tanah Bengkulu dan Kebudayaan Abad ke-III sM Hingga ke-XVI M

Oleh: Benny Hakim Benardie (1)

“Sebagai Anak Negeri, Kita Menginginkan Kebenaran Sejarah Tanah Bengkulu,
Bukan Pembenaran Sejarah“(BHB)

Kilas paparan ini hanya Pengantar Sejarah Tanah Bengkulu Abad ke-III sM Hingga ke-XVI M (264 sM-1575 M) saja. Hanya merupakan rekonstruksi dari perjalanan panjang anak negeri LU-SHIANGSHE, sebuah negeri yang pernah ada di pesisir barat Pulau Sumatera.

Penulis mencoba mengungkap tentang berbagai negeri di Tanah Bengkulu, dengan berbagai aktivitas anak negeri sebagai penambang emas, pertani, pembangunan industri kapal layar (Pinisi), sosial dan budaya, serta pengembangan agama Islam di Tanah Bengkulu.

Negeri Indonesia pernah disebut dengan kata Antara – Nusa (Nusantara), Jabadhiou atau Javadhvipha. Sebagaimana nama negeri yang pernah diperintahkan Nabi Sulaiman AS kepada pelaut Phoenisia (600 sM), untuk mencari emas ke-negeri yang kaya banyak menghasilkan emas. Negeri yang dimaksud adalah Pha-Limbham (Nama negeri yang terdapat di Provinsi Banten) dan negeri Lu-Shiangshe (Nama negeri yang terdapat di Provinsi Bengkulu).

Kata Nusa yang dipakai untuk sebutan sebuah negeri oleh para pedagang, penyebaran agama Hinddhu, Bhuddha dan masa Islam yang datang ke Archipelago ini. Untuk pertama kali dipakai di Tarumanagara pada awal abad ke-IV Masehi, dalam prasasti Batu Tulis yang menceritakan tentang adanya negeri Nusa-Larang (Tanah Larangan) di Phalimbham dan Phanaitan (Provinsi Benten sekarang) oleh Dinasti Purana atau Purnawarman.
Sebutan Nusantara (Nusa-Antara), dalam berbagai buku Ilmiah Antropologi dan Ethnologi, banyak kita temukan dengan menggunakan kata “Malay Archipelago” dan atau “Indian Archipelago”.

Kronik-kronik Arab, India dan Cina menyebut negeri ini dengan istilah Pha-Mnalä-yë atau Pha-Mnalä-yu yang bermakna kepulauan atau gugusan pulau bagaikan untaian tasbih. Sekarang kita hanya mengenalnya dengan istilah Mnalä-yë atau Malayu.

Pedagang Arab dan India, ada juga yang menyebut negeri ini dengan istilah Jabadhiou atau Javadhvipha, sebagaimana yang tertera dalam sair Ramayana. Istilah Yavdvipha atau Javadviva yang dimaksudkan adalah, sebutan bagi dua pulau yaitu Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kata Java atau Jawa itu hanya untuk menunjukkan satu pulau di Nusantara, yaitu Pulau Jawa yang ada sekarang.

Untuk sebutan untuk Pulau Sumatera, parapendatang ada yang menggunakan sebutan dengan kata Andalas (Hutan dan pengunungan yang lebat), “Pulau Harapan” atau “Samudera” (Samudera adalah sebutan bagi negeri yang berada diseberang lautan Arab dan India, yaitu Indonesia). Kata Sumatera diambil dari kata Soma dan Cetra, artinya pulau orang-orang pemabuk atau penghayal.

Secara geologi dan geografis, negeri-negeri di Nusantara ini telah dikunjungi oleh bangsa-bangsa pendatang, paling tidak dengan tiga alasan: Pertama, mencari tambang emas. Kedua, perpindahan penduduk (Exsodus) akibat bencana alam. Baik vulkanis maupun tektonis, akibat terjangkitnya wabah penyakit dan perang. Ketiga, meningkatnya hubungan perdagangan.


Perjalanan panjang sejarah negeri Nusantara ini, menunjukkan ada dua negeri yang pernah dikunjungi etnik India dan Cina dalam eksodus pertama pada Tahun 264 – 195 sM. Pendatang asing ini umumnya telah memiliki berbagai tingkat keterampilan di bidang kelautan, pertukangan, pertanian, serta memiliki seni budaya yang jauh lebih tinggi dari penduduk asli. Negeri yang pertama dikunjunginya adalah Lu-Shiangshe di Provinsi Bengkulu dan Pha-Limbham di Provinsi Banten. Kedua negeri ini sama-sama penghasil emas dan lokasi penambangan yang pertama kali ditemukan di Nusantara oleh bangsa-bangsa pendatang.

Seperti diketahui, kehidupan sekelompok manusia tersebut, yang semula terdiri dari dua orang atau lebih, telah melahirkan kebudayaan. Baik berupa material (Benda) maupun non material (Rohani). Peradaban dalam fase-fase perkembangan kehidupan manusia dengan segala pemanfaatan secara maksimal. Baik jasmani maupun rohani dengan lingkungan alam disekitarnya. Inilah yang melahirkan berbagai aspek Kebudayaan.

Manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang erat sekali. Tak mungkinlah kedua-duanya itu dipisahkan. Ada manusia ada kebudayaan. Tidak akan ada kebudayaan jika tidak ada pendukungnya, manusia.

Akan tetapi manusia itu hidupnya tak berapa lama, ia lalu mati. Maka untuk melangsungkan kebudayaan pendukungnya, harus lebih dari satu orang, bahkan harus lebih dari satu turunan. Kata lainnya, harus diteruskan kepada orang-orang disekitarnya hingga turun temurun.

Cara meneruskan kebudayaan demikian luasnya itu dimungkinkan, karena manusia dikaruniai kepandaian berbicara. Bahasa adalah alat perantara yang terutama sekali bagi manusia, alat yang tak ada pada binatang. Suatu kebudayaan hanyalah dapat ditelaah, jika kebudayaan iitu telah mencapai kebulatan dan bentuk yang nyata (Dr R Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1, Penerbit Kanisius 1973, hal 9).

Harta-harta peninggalan yang merupakan seluruh usaha manusia, sekarang ini hanyalah sebagian kecil sekali saja, selebihnya telah kenyap tiada berbekas. Peninggalan-peninggalan kebudayaan kebendaan dapat langsung kita teliti dan selidiki. Sebaliknya, peninggalan-peninggalan kerohanian, seperti alam fikiran, pandangan hidup, kepandaian bahasa dan sastra, banyak lagi lainnya.

Itu semua hanyalah dapat kita ‘tangkap’ jika kita berhubungan dengan para pemilik dan pendukungnya. Karena kita tidak lagi dapat berhadapan dengan orang-orang dahulu kala, maka harta kerohaniannya itu hanya dapat kita kenal jika telah dituliskan dan tulisan-tulisan itu sampai kepada kita. (BERSAMBUNG)

*Pemerhati Sejarah Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta

Leave a Reply