December 5, 2021

Meracik Dakwah di Kedai Kopi Oleh : Fevo Wahyu Anugrah

BDKlik.com,- Artikel, Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk berdakwah. Salah satunya menjadikan kedai-kedai kopi sebagai tempat strategis untuk berdakwah. Mungkin banyak di antara kita yang bertanya-tanya, kenapa kedai kopi? 

Bisnis kopi terus berkembang dan menjadi sektor bisnis primadona di Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan kemunculan kedai kopi, mulai dari yang sederhana hingga kekinian, di berbagai kota seluruh Indonesia.

Pertumbuhan kedai dan gerai kopi di Indonesia, terus mengalami lonjakan. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, pada tahun 2016 terdapat lebih kurang 1000 kedai kopi Indonesia. Angka tersebut terus bertambah hingga menjadi lebih kurang 3000 kedai kopi per Agustus 2019. Jumlah ini didukung pula dengan produksi kopi yang mencapai 600.000 ton sejak lima tahun terakhir, seperti yang disampaikan dalam buku “Kopi: Aroma, Rasa dan Cita” (2018: 13). 

Bagi para dai, hal ini bisa menjadi peluang besar untuk menyebarkan dakwah. Kedai kopi yang bernuansa cukup santai, bersahabat dan terbuka, bisa menjadi tempat nyaman untuk membuka ruang tanya jawab mengenai agama. Atau di sinilah para dai bisa menyiarkan nilai-nilai agama secara perlahan-lahan tetapi lebih mengena kepada semua kalangan yang suka nongkrong di kedai-kedai kopi, seperti kaum milenial.

Memang, menyampaikan dakwah tidaklah semudah yang dibayangkan. Namun, membutuhkan racikan dan formula yang tepat. Sehingga bisa sampai tepat sasaran untuk semua kalangan. Perlu kemampuan berkomunikasi yang pas, sehingga tidak terkesan menggurui, terlalu formal atau memberikan asupan satu arah yang kadang terasa membosankan.

Oleh sebab itu, forum dakwah bisa dibuka menjadi lebih santai, terbuka dan tidak terlalu formal. Termasuk membangun komunikasi dua arah. Salah satu tujuannya, agar siapa saja yang ingin bertanya atau menyampaikan pendapat, tidak merasa sungkan. Artinya, mereka hadir bukan hanya sebatas objek yang mendengar atau menerima. 

Tentu saja hal ini dapat mengisi ruang-ruang kosong, bagi orang-orang yang tidak bisa mendatangi dakwah secara rutin di masjid atau majelis-majelis taklim, yang kerap terkesan hanya tempat yang diperuntukkan bagi orang-orang saleh dan paham ilmu agama. 

Sehingga bagi kebanyakan orang awam yang merasa dirinya masih jauh dari sentuhan dan tuntunan nilai-nilai keagamaan, justru merasa sungkan. Akhirnya, peluang berdakwah hanya terhenti sampai di sini. Padahal mereka adalah orang-orang yang sebenarnya sangat membutuhkan. 

Korelasi dakwah dan kedai kopi, mengingatkan penulis kepada Sayyid Jamaluddin Al-Afgany.  Dalam buku “Da`wah Jamaluddin Al-Afgani Fii Miizaan Al-Islaam” (1983: 377-379), disebutkan bagaimana metodenya dalam menyebarkan dakwah.

Bila dai secara umum berdakwah di masjid dan majelis taklim, Sayyid Jamaluddin Al-Afgany tidak merasa cukup hanya sampai di situ. Sosok ini mengembangkan sayap dakwahnya di tempat-tempat umum seperti destinasi pariwisata dan kedai-kedai kopi.

Dakwah yang terasa lebih membaur, membuat Sayyid Jamaluddin Al-Afgany mudah dikenal dan diterima dari berbagai kalangan masyarakat. Mereka bisa menerima dengan baik apa sudah yang disampaikan.  

Prof. Dr. Hamka dalam bukunya bertajuk “Said Jamaluddin Al-Afghany” (1981: 42, 43) menceritakan, saat berada di Mesir, ketika siang hari Jamaluddin mengajar. Kemudian pada malam hari, dia pergi ke kedai kopi seperti di Qahwa Kantor Pos. Di sana sudah berkumpul banyak orang dari berbagai kalangan dan profesi, yang siap bertanya kepada Jamaluddin. Mulai dari sastrawan, doktor, apoteker, ahli sejarah, ahli bumi dan lainnya. 

Berbagai persoalan yang berkaitan dengan agama, filsafat, tasauf hingga politik, bisa dijawabnya dengan sangat memukau. Maka tidak mengherankan jika banyak yang berdecak kagum. Bagi yang pernah menghadiri majelis kedai kopi Jamaluddin, biasanya akan tertarik untuk mengikutinya kembali. 

Salah satu muridnya yang pada waktu itu turut mendengar adalah Syekh Muhammad Abduh dan Sa’ad Zaghlul Pasya. Mushthafa Fauzi, penulis buku Da’wah Jamaluddin Al-Afghany menjelaskan mengapa kedai kopi yang dipilih, karena memang komunikan dakwahnya banyak dari kalangan itu. Ada juga yang kondisinya hanya bisa berkumpul di kedai kopi. Orang Yahudi dan Nasrani misalnya, juga bisa lebih leluasa mendengar dakwah di kedai kopi.

Selain Jamaluddin Al-Afghany, Hasan Al-Bana, juga demikian. Dia menebar dakwah melalui kedai-kedai kopi sebab mengetahui benar, betapa besar potensi berdakwah melalui jalur tersebut. Hasan juga berhasil menawan hati para komunikan dakwah dari berbagai kalangan. 

Oleh karena itulah, tidak ada salahnya jika mencoba peluang yang sedemikian besar ini. Sehingga penyebaran nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-‘aalamin lebih cepat meluas. Dari sebuah kedai kopi, kesan dakwah yang sebelumnya tertuju hanya pada orang-orang baik dan saleh, akan menjadi semakin luas hingga ke berbagai kalangan. (Wik)

*Duta Kopi Indonesia 2021*

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com