September 26, 2020

Kebahagiaan yang Terenggut

Oleh Zacky Antony

KAPAN anda merasa bahagia? Apakah saat jatuh cinta? Saat gajian? Saat menikah? Saat kelahiran anak pertama? Saat wisuda? Saat diterima kerja? Saat menyelesaikan tugas? Saat bercinta? Saat punya banyak harta? Saat dapat jabatan? Saat naik pangkat? Saat menang pertandingan? Saat menyalurkan hobi? Saat dipuji orang? Atau saat menghadap Tuhan?

Setiap orang pasti punya jawaban masing-masing. Bisa jawaban sama, tapi sangat mungkin berbeda. Kebahagiaan adalah cahaya atau rasa yang tersimpan dalam hati. Pancarannya keluar melalui wajah. Terpantul lewat mata. Tapi apapun jawabannya, ukuran kebahagiaan bukan pada materi. Melainkan pada hati yang bersih. Karena itu, bahagia tidak bisa dibeli.

Pada bulan suci Ramadhan, rasa bahagia itu muncul pada saat berbuka puasa. Adzan Magrib adalah saat yang ditunggu-tunggu. Adzan adalah gema mengagungkan kebesaran ilahi. Itu panggilan sholat. Saat adzan berkumandang, hati langsung berkata; saatnya berbuka. Rasa bahagia muncul dengan sendirinya.

Banyaknya menu bukan ukuran bahagia saat berbuka puasa. Sebab, kapasitas perut ada batasnya. Rasa lezat hanya sebatas lidah. Setelah masuk tenggorokan, rasa itu hilang. Dan makanan yang lezat tadi berubah menjadi kotoran. Karena itu, bahagia bukan terletak pada jumlah. Tapi pada kewajarannya.

Bagi pedagang, rasa bahagia itu muncul saat barang dagangannya laku terjual. Bagi petani, rasa bahagia muncul saat panen. Bagi guru, rasa bahagia muncul saat anak didiknya sukses. Bagi wartawan, rasa bahagia muncul saat tulisannya bermanfaat bagi orang lain. Bagi karyawan, rasa bahagia muncul saat gajian. Bagi seorang istri, rasa bahagia muncul saat dapat kabar kehamilan. Bagi orang tua, rasa bahagia muncul saat anak-anaknya berhasil. Bagi seorang pemimpin, rasa bahagia muncul saat rakyatnya sejahtera.

Bagaimana rakyat biasa? Kapan mereka merasakan bahagia? Salah satunya, rasa bahagia itu muncul saat mudik lebaran. Diiringi gema suara takbiran, perjalanan mudik itu begitu mengasyikkan. Ahh…aku merindukan perjalanan mudik itu. Rasa bahagia tambah berlipat saat tiba di kampung halaman. Berkumpul bersama sanak keluarga.

Menyambut hari yang Fitri itu, begitu banyak rasa bahagia muncul. Selain persiapan mudik, bahagia bisa membayar zakat fitrah. Bahagia mendampingi istri berbelanja di pasar. Bahagia membeli baju baru untuk anak-anak. Rumah dicat baru. Halaman dibersihkan. Makanan enak disiapkan. Itulah ekspresi kebahagiaan.

Sudah terbayang bersalaman dan meminta maaf kepada orangtua, nenek-kakek, paman-bibi dan keluarga yang lain. Bersilaturahmi dengan tetangga sekampung. Kawan-kawan masa kecil dulu. Saat sama-sama mandi di sungai. Berangkat sekolah berombongan melewati padang ilalang dan menyeberangi sungai. Akh…aku selalu menghiruf nafas dalam-dalam kalau ingat masa kecil itu.

Saat hari yang fitri itu tiba, bangun tidur lebih awal. Ada rasa bahagia saat memakai baju baru. Makan lontong ketupat. Kebahagiaan dalam Islam terpotret sempurna pada hari Idul Fitri itu. Tidak ada yang cemberut. Semua mengembangkan senyuman.

Tapi tahun ini, mudik lebaran dilarang menyusul wabah virus corona yang belum terhentikan. Kebahagiaan merayakan lebaran akan terasa kurang lengkap tanpa mudik. Karena inti makna fitri itu adalah “kembali ke asal”. Tak akan ada lagi perjalanan pulang diiringi takbir. Sebuah kebahagiaan yang terenggut.

Salam cinta dari saya sekeluarga. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1441 Hijriah. Mohon dimaafkan atas kesalahan dan kekhilafan. Wassalam.

Penulis adalah wartawan senior yang juga Ketua PWI Provinsi Bengkulu

Leave a Reply