January 16, 2022

Jadi Tersangka Korupsi Dana Bos, Mantan Kadis Pendidikan Seluma Titipkan Uang ke Kejati

BDKLIK.com, – Tim penyidik bidang tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu menerima pengembalian kerugian negara dari Emzaili Hambali, mantan Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Seluma yang menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat media belajar untuk SD dan SMP Kabupaten Seluma yang anggarannya bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (Bos) afirmasi non fisik tahun 2020.

“Bidang tindak pidana khusus menerima uang titipan sebanyak Rp 282.150.000. Penitipan ini dari keluarga tersangka untuk nanti dipergunakan sebagai uang pengganti kerugian negara,” kata Kepala Kejati Bengkulu, Agnes Triani, SH.MH, baru-baru ini.

Sebelumnya tersangka sudah menitipkan uang kerugian negara dan ini merupakan yang kedua kalinya. Kajati mengungkapkan, kerugian negara yang dikembalikan tersebut akan dijadikan barang bukti di persidangan.

“Kalau uang yang dititipkan itu nanti lebih dari kerugian negara yang disebabkan, maka sisanya akan dikembalikan ke terdakwa. Ini kasus Dana Bos, kalau kerugian negara ini dikembalikan sebelum penuntutan, itu akan menjadi pertimbangan kita dalam menuntut yang bersangkutan,” ungkap Agnes Triani.

Diketahui, dalam kasus ini, Kejati Bengkulu menetapkan dua orang sebagai tersangka yakni  Emzaili Hambali mantan Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Seluma dan Filya Yudiati Asmara mantan karyawan Biru Komputer sekaligus menantu Kadis Diknas Seluma.

Agnes Triani sebelumnya membeberkan peran kedua tersangka dalam kasus tersebut. Kajati menyebutkan, tersangka Kadis Diknas memanfaatkan dana tersebut dalam hal penyediaan alat belajar komputer melakukan mark up harga.

“Seharusnya Kepala Sekolah yang membeli alat itu sendiri, tetapi difasilitasi oleh Kepala Dinas sehingga mengambil keuntungan dari sana,” kata Kajati.

Sementara, tersangka Filya Yudiati Asmara yang menghubungkan pihak penyedia jasa komputer dan melakukan pembelian, tersangka juga menerima uang hasil mark up.

“Sebenarnya harga itu mereka tetapkan sesuai dengan DIPA yang ada itu Rp 13 juta, tetapi oleh mereka dibeli dengan harga Rp 8,5 juta,” jelas Kajati.

Kajati mengungkapkan, dalam kasus ada dugaan penyalahgunaan yang dilakukan Kadis Diknas Seluma. Dana itu totalnya Rp 6.120.000.000 dan berdasarkan hasil audit BPKP kerugian negaranya Rp 582.000.000.

“Kita tidak melihat nilainya tetapi kita melihat dimassa pandemi Covid inilah dimana seharusnya masyarakat, kepala sekolah itu menerima bantuan, tetapi malah dimanfaatkan oleh oknum Kadis tersebut,” ungkap Kajati.

Kajati menyampaikan, tersangka dijerat Pasal 2 dan 3 undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

“Tersangka utama mengembalikan uang hasil dari perbuatannya Rp 300 juta, tapi perkaranya kan sudah naik dan akan kita jadikan sebagai barang bukti,” terang Kajati.

Saat disinggung, soal keterlibatan pihak lain dalam perkara ini, Kajati Bengkulu menyampaikan pihaknya akan melihat perkembangan dan fakta persidangan nanti. (461)

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com