September 25, 2020

Interpretasi New Normal Terhadap Dunia Ditengah dan Pasca Krisis Pandemi Covid-19

BDKlik.com,-Virus korona (COVID-19) yang melanda dunia saat ini membawa umat manusia dalam kondisi krisis. Bahkan krisis ini merupakan krisis terbesar sepanjang sejarah generasi yang ada pada saat ini pasca perang dunia ke-II. Setiap keputusan yang dibuat pada masa krisis ini tentu akan membentuk dunia pada waktu berikutnya, tindakan kedaruratan yang coba diterapkan akan dijadikan landasan akan pengaturan hidup di masa depan.

Setiap keputusan yang dibuat juga akan membuat perjalanan sejarah bergerak lebih cepat dari kalkulasi-kalkulasi sebelumnya. Setiap keputusan yang dalam waktu normal diambil dengan pertimbangan bertahun-tahun dan tidak mau gegabah (karena harus mempertimbangkan segala aspek kehidupan), namun pada masa krisis ini harus segera mungkin untuk dicoba.

Teknologi yang belum layak uji harus terpaksa untuk digunakan. Karena, apabila kita hanya diam untuk tidak bersikap dan menunggu sampai sebuah keajaiban magis datang menghampiri justru akan menimbulkan sebuah bencana kemanusiaan yang begitu besar. Dan kita (umat manusia) dituntut untuk menyesuaikan diri dengan segala keputusan yang telah diambil ini. Bukan hanya tentang sistem kesehatan saja, namun juga sistem ekonomi, sosial, demokrasi, dan kebudayaan kita. Inilah yang kita sebut sebagai new normal.

Tulisan ini hanyalah kemungkinan-kemungkian yang barangkali adalah mungkin terjadi atau bahkan tidak mungkin akan terjadi sebagai dampak dari tata kehidupan normal yang baru atau new normal. Tujuan saya adalah membayangkan apa yang terjadi saat ini dan pasca pandemi COVID-19 ini nanti berakhir. Dengan demikian tulisan ini hanyalah excercise in modality.

Dalam terminologi saya, new normal merupakan suatu keadaan dimana setiap umat manusia dituntut untuk patuh dan menyesuaikan diri terhadap kebijakan yang diambil guna menopang hidup mereka agar selamat ditengah perang melawan krisis dan pasca krisis pandemi virus korona (COVID-19) ini nanti (jika dan dengan penuh harap untuk segera) berakhir.

Pengawasan dan pemeriksaan temperatur tubuh saat berada di checkpoint atau pintu masuk, mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer setelah beraktivitas, menjaga jarak sosial dan fisik dengan mengharuskan kita berdiam diri dirumah yang menyebabkan segala aktivitas kita dilaksanakan dari rumah.

Mulai dari berbelanja kebutuhan primer maupun sekunder secara daring, mengikuti (kuliah, rapat, seminar) daring, hingga beberapa kegiatan berdemokrasi kita saat ini harus diungsikan ke dunia daring, ini merupakan suatu budaya (yang memang bukan budaya baru namun selama ini belum terlalu masif dilakukan oleh umat manusia) yang akan berdampingan dengan kehidupan kita saat krisis dan pasca krisis ini berakhir nantinya. Hal ini juga merupakan kemajuan dan kekuatan yang luar biasa dimiliki oleh umat manusia dalam perang melawan penyebaran virus korona yang sedang berlangsung saat ini.

*Pengawasan total

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sebetulnya sangat efektif menghentikan penyebaran virus korona ini, namun jika dilihat dari sisi buruknya tentu saja ini akan memberikan hak atas sistem pengawasan baru yang mengerikan. Misalnya pemeriksaan temperatur tubuh di setiap pintu masuk, sekilas tidak ada yang salah dengan pemeriksaan tersebut namun yang menjadi persoalan adalah tidak ada satu pun dari kita yang mengetahui bagaimana sebetulnya alat itu bekerja, apakah betul hanya memeriksa temperatur tubuh kita saja ? bagaimana jika pelaporan dari pemeriksaan itu tidak memberikan informasi yang jujur kepada kita ? bagaimana jika alat tersebut mampu mengidentifikasi data tubuh kita melampaui hal yang mendasar seperti kebutuhan privasi kita lalu data tersebut dianalisis oleh suatu sistem berteknologi mutakhir yang belum ada presedennya ? Kemudian pemerintah selaku otoritas kebijakan memungut data-data tersebut secara massal dan bisa mengetahui kondisi tubuh kita melebihi diri kita sendiri lalu memonopoli dan memanipulasi perasaan kita agar bisa menjual apa yang kita inginkan (baik produk atau pun tokoh politik) untuk melanggengkan kekuasaan dan pundi-pundi uang mereka.

  • Ujian Berat Demokrasi

Dalam konstitusi kita tercantum jelas bahwa negara memberikan kebebasan untuk setiap warga negaranya untuk berkumpul, berserikat, bahkan mengemukan pendapat dimuka umum, namun ditengah pandemi virus korona ini kebebasan-kebebasan tersebut terpaksa tidak berlaku dan mewajibkan kita mentaati protokol kesehatan yang ada demi menekan penyebaran virus korona ini. Lebih lanjut, pengawasan yang serba ketat dan tersentralistis seperti yang saya utarakan diatas tentu akan merampas habis ruang privasi setiap individu untuk melakukan hal-hal yang seyogyanya tidak untuk diketahui oleh orang lain bahkan oleh suatu otoritas. Seperti halnya baru-baru ini di Israel Perdana Menteri Benyamin Netanyahu yang memberikan wewenang kepada badan pertahanan untuk menggunakan teknologi pengawasan yang biasanya digunakan untuk mendeteksi seluruh kegiatan orang-orang yang dianggap teroris namun pada masa pandemi virus korona ini dialihkan untuk mengawasi seluruh kegiatan warganya guna pendeteksian dini terhadap orang yang terjangkit virus korona dengan dalih keadaan darurat kesehatan. Bahkan di China (negara yang menjadi episentrum virus korona) lebih mengerikan lagi, otoritas China mewajibkan setiap orang untuk melapor temperatur tubuh dan juga kondisi kesehtan mereka lewat aplikasi pada gawai setiap orang. Hal ini tak hanya dengan cepat mengidentifikasi orang yang dicurigai namun juga dengan cepat mengetahui seluruh aktivitas setiap orang dan kepada siapa saja mereka berinteraksi fisik. Ini tentu akan merusak esensi lalu menghancurkan demokrasi itu sendiri dan membawa kita pada rezim pengawasan totaliter. Karena saat meminta orang untuk memilih antara kesehatan atau privasi pada umumnya orang akan memilih kesehatan. Dan ini merupakan pilihan yang keliru, karena kita bisa dan memang sudah seharusnya menikmati layanan kesehatan tanpa harus membuka ruang privasi kita kepada orang lain.

  • Stabilitas Ekonomi dan/atau Solidaritas Kemanusiaan

Dengan berlakunya aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah di Indonesia untuk menekan laju penyebaran virus korona. Maka ini juga akan membatasi seluruh kegiatan sosial-ekonomi masyarakat. Tidak ada lagi orang akan berkumpul, tidak ada pasar,tidak ada orang yang berani menanam investasi, penjualan dari setiap kegiatan usaha secara perlahan akan menurun hingga ke titik nadirnya bahkan beberapa kegiatan usaha yang berhenti melakukan proses produksi dan distribusi atau stop selling, tidak ada kegiatan industri dan PHK besar-besaran, maka konsekuensi logisnya adalah tidak ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Bahkan di Australia, PM Scott Morisson mengatakan bahwa situasi perekonomian masyrakat mereka hampir melampaui keadaan depresi besar yang terjadi pada tahun 1929-1939. Di Indonesia pun tidak kalah pelik dari krisis moneter yang terjadi 20 tahun silam, per hari ini kurs rupiah terhadap dollar masih berada di level antara 14 000 hingga 16 000 rupiah per dollar nya. Ini menjadi tanda bahwa ekonomi dunia sungguh tidak berdaya di hadapan virus korona. Lebih jauh, dengan dibatasinya mobilisasi manusia selama virus korona ini berlangsung maka seluruh aktivitas industri (dari sektor manufaktur hingga jasa) akan mulai melirik teknologi mutakhir guna alternatif untuk operasional. Maka ini mempercepat proses revolusi industri 4.0 dari yang diperkirakan sebelumnya. Tentu memang, ini sangat efektif menekan penyebaran virus korona, namun yang menjadi ancaman adalah pandemi COVID-19 tidak hanya menjadi bencana bagi kemanusiaan namun juga menjadi kiamat bagi dunia pekerjaan yang biasanya menggunakan tenaga manusia kini harus beralih ke teknologi artificial intelligence (AI) . Telebih lagi dalam satu dekade kedepan Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi tentu ini menjadi hidangan buah simalakama bagi setiap otoritas kebijakan, pasalnya apabila pemerintah gagal membuat regulasi dan kebijakan yang komprehensif dalam waktu yang singkat saat ini terhadap penggunaan teknologi kecerdasan buatan. Maka konsekuensinya adalah akan terjadi ledakan pengangguran yang dapat melampaui batas kewajaran, dan tentu persoalan seperti ini menjadi sepenuhnya tanggung jawab pemerintah. Karena apabila memilih untuk berhenti melakukan kegiatan produksi dan distribusi tentu juga menghentikan proses pendapatan bagi seluruh elemen industri, namun jika memilih untuk tetap beroperasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan maka tentu harus memangkas seluruh pekerjaan teknis yang ada di industri tersebut dan akan menjadi beban untuk negara dikemudian hari.

Interpretasi New Normal Terhadap Dunia Di tengah dan Pasca Krisis Pandemi Covid-19

Oleh : Muhammad Farif Alfajri
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UMB, Kader HMI Cabang Bengkulu