September 19, 2020

Cerita Mantan Kapolda Bengkulu Positif Corona, Ngaku Sempat Stress, Hingga Akhirnya Sembuh

BDKlik.com, – Mantan Kapolda Bengkulu Irjen Pol Supratman sempat dinyatakan positif terpapar Covid-19 atau Corona berdasarkan hasil Swab 30 April 2020. Kabar beliau terpapar Covid-19 sempat hebohkan Provinsi Bengkulu, bahkan Indonesia karena beliau dinyatakan positif tak lama setelah beliau serah terima jabatan (Setijab) Kapolda Bengkulu di Mabes Polri beberapa waktu lalu.

Namun atas kerja keras beliau berjuang melawan Corona, akhirnya beliau berhasil sembuh dan saat ini telah dinyatakan negatif Corona.

Mantan Kapolda Bengkulu Irjen Pol Supratman saat dijumpai di kediamannya, Jumat malam, (5/6/2020) secara blak-blakan menceritakan waktu dirinya dinyatakan positif hingga berhasil sembuh dari Covid-19. Jendral Bintang Dua dipundaknya tersebut menuturkan, sebelum di tes swab tanggal 30 April 2020 dirinya sudah memperhitungkan pasti ada resiko karena, kata dia, jika swab jawabannya hanya dua, kalau tidak positif, negatif.

“Kalau negatif ya Alhamdulillah tapi kalau positif ya kenyataan itu yang harus saya hadapi,” kata Supratman saat diwawancarai Pemburu TKP BDTV Cacam Nian.

Supratman melanjutkan, pada waktu itu karena dia seorang pimpinan Polisi di Bengkulu maka harus mengambil resiko tes Swab. Karena, jika didiamkan dan tidak melakukan Swab, lalu tau-tau positif maka lebih berbahaya lagi. Karena sebelumnya sudah pegang keluarga, teman dekat dan lainnya maka bisa terus menyebar kemana-mana bahkah bisa masyarakat se Provinsi Bengkulu. Maka dari itulah ia berinisiatif tes Swab. Karena mengingat
waktu itu selain sudah ada salah satu stafnya yang positif corona, juga banyak kegiatan yang ia dilaksanakan seperti kunjungan di Perbatasan Kabupaten Kaur, Lebong, Mukomuko.

“Dan setiap hari saya seperti itu, bertemu dengan berbagai macam orang, saya fikir memang, kami ini rentan. Sebenarnya saya selalu menjaga karena setiap kegiatan pakai sarung tangan, pakai masker, pakai kacamata, cuci tangan, itu gak berhenti. Makanya badan saya secara fisik gak ada masalah sampai saat ini, makanya saya yakin kemudian waktu itu berani Swab. Setelah saya serah terima jabatan, saya pulang. Ketika posisi di Liwa, jam 7 pagi Kepala Laboratorium telfon saya mengatakan hasil Swab tangga 30 April 2020 positif, wah kaget saya kan, yaudah saya harus percayai itu kan. Waktu itu saya sama istri kan dan kru-kru saya, tadinya satu mobil, saya kasih tau istri saya pisah sama saya pakai mobil yang di belakang,” ungkap Supratman.

Supratman mengaku galau dan bingung usai menerima kabar dinyatakan positif corona, karena ternyata resiko positif yang harus dihadapinya. Setelah tiba di Bengkulu, ia buka puasa karena waktu itu masih puasa, kemudian salat magrib dan lanjut isya, hingga tarawih. Dan setelah itu Kepala Rumah Sakit Bhayangkara datang.

“Saya ditanya pak ada rasa gimana, gak ada saya bilang, gak ada sama sekali ciri-ciri flu, demam ataupun nyeri tenggorokan. Nah hebatnya lagi, pada saya swab tanggal 30 April itu saya ajak istri dan istri saya negatif. Saya fikir ya sudahlah saya gak mau berpolemik, apapun itu karena saat itu kenyataannya saya positif. Kemudian pihak Rumah Sakit bilang saya harus isolasi, waktu itu pihak Rumah Sakit bilang isolasi bisa mandiri dirumah, atau dimana. Terus saya fikir kalau isolasi mandiri di rumah nanti malah beban keluarga kan anak saya, istri saya, lihat saya seperti itu. Terus saya tanya kalau isolasi di rumah sakit, rumah sakit mana, pihak Rumah Sakit bilang di RS. M Yunus pak. Saya tanya kamarnya seperti apa, dan kebetulan gedung baru di bagian belakang. Karena gedung baru pasti fasilitasnya juga baru. Lalu saya malam itu juga minta baju diantar sama sopir saya dan ajudan berangkat ke Rumah Sakit. Sampai sana mereka batas pintu saja gak boleh masuk kan, saya langsung disambut sama rombongan tenaga medis berpakaian Alat Pelindung Diri (APD) lengkap,” beber Supratman.

Disitu sambungan Supratman, langsung diambil darah, di ambil Rontgen, kemudian di kasih kamar isolasi mandiri.

“Secara manusiawi saya terus terang Setres saat itu, wah kok kayak gini saya pikir kan. Sampai tidak bisa tidur saya, sampai salat subuh. Kemudian pada hari Minggu-nya saya merenung, saya berfikir ini gak bisa saya seperti ini terus bisa-bisa imun saya ngedrop. Walaupun fisik saya sehat kalau imun saya ngedrop masuk barang itu istilahnya kan begitu. terus ya udah saya bismillah, saya langsung kirim pesan lewat WhatsApp kepada istri, saya bilang bawa sepeda saya, carikan kain pel, ember terus kirim kesini. Setelah itu, saya langsung olahraga, saya ngepel. Jadi betul-betul saya tata hati saya, supaya tidak sedih dan tidak berfikir yang macam-macam. Disitu saya yakin karena saya sehat maka saya harus sehat. Apapun makanannya saya sikat, pokoknya saya gerak terus,” terang Supratman.

Kemudian hari Senin-nya, lanjut Supratman, dokter datang, tanya keadaan dan menyampaikan diambil Swab. Setelah diambil Swab kedua, ia terus melakukan kegiatan apapun yang bisa dilakukan seperti olahraga.

“Setelah hari Jumat, berita baik itu muncul dan hasil Swab hari Senin itu negatif. Nah berarti secara teoritis, hari Senin itu saya sudah negatif. Bisa saja hari Minggu sudah negatif, memang masa itu 14 hari tanggal 30 April saya diambil Swab. Biasa jadi positif saya bukan tanggal 30 April, bisa tanggal 29 atau tanggal 28 kan. Karena mungkin imun saya bagus akhirnya saat di Swab itu negatif. Terus setelah itu saya tetap Ikuti protokol kesehatan, isolasi. Setelah itu saya di Swab lagi dua kali berturut-turut dalam waktu dua hari dan hasilnya negatif terus saya boleh pulang, tapi tetap saya karantina mandiri. Karena saya mau bertugas di tempat saya yang baru di Leman Bandung maka saya swab lagi. Jadi totalnya Swab saya 5 kali, 1 kali positif 4 kali negatif. Dan Alhamdulillah saya negatif,” jelas Supratman.

“Karena saya sangat yakin, contoh mustinya yang paling ikut tertular itu keluarga, istri kan karena pada saat saya positif, saya isolasi di Rumah Sakit, istri dan anak-anak Swab hasilnya negatif. Mustinya secara logika mereka duluan, apalagi istri saya, kan satu kamar sama saya, termasuk driver saya dan orang yang dekat sama saya setiap hari semuanya Alhamdulillah negatif. Ya udah itu rencana Allah, saya justru bersyukur dengan begitu saya bisa istirahat disana, saya bisa lebih fokus ibadah kepada Allah, ya mungkin selama ini ibadah saya mungkin tidak fokus, disana saya bisa ngaji, mungkin selama ini salat tahajud saya cuma dua rakaat disana saya lebih banyak dan itu mungkin hikmahnya disitu, lebih dekat dengan Allah. Saya terimakasih kepada saudara-saudara saya, rekan-rekan saya dan semuanya yang telah mendoakan dan memberikan support, itu tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia,” demikian Supratman. (461)