September 29, 2020

Belajar Memaknai Idul Fitri Dari Cak Nur

BDKlik.Com,-Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam bukunya Islam agama peradaban ; membangun makna dan relevansi Islam dalam sejarah (1995) menyebutkan, setiap amalan yang bersifat ritual atau wirid, amalan istighfar, syukur, dan doa hanya akan memberi makna yang menjadi tujuannya jika kita tidak terpaku kepada segi-segi formalnya saja, tetapi menangkap isi dan semangatnya. Tepat kiranya menjadikan renungan substansi Cak Nur dalam memaknai ritus ibadah tersebut sebagai rujukan dalam menyikapi keadaan umat Islam Indonesia pada hari ini.
Di tengah semakin mewabahnya pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang telah menjangkit puluhan ribu masyarakat Indonesia, peribadatan umat Islam Indonesia turut menjadi diskursus yang tidak terlepas dari perdebatan. Gencarnya himbauan ibadah di rumah banyak ditentang oleh pemeluk agama Isam, hal ini merupakan fakta empirik yang dapat menyatakan bahwa pemahaman masyarakat mengenai ibadah dan ibadat dalam Islam tidaklah komprehensif. Kegagapan kita dalam menyikapi musibah bersama ini menunjukkan bahwa umat Islam cenderung dalam ibadah hanya terikat pada formalitas nya belaka, tidak pada nilai yang terkandung didalamnya.
Beragam anggapan mengenai ibadah di rumah menjadi paradoks tersendiri, jika kita melihat realita umat kekinian yang banyak berdoa di media sosial dan cenderung melakukan justifikasi keliru terhadap wujud pemeluk agama Islam. Tanpa disadari sikap demikian pada akhirnya meletakkan standar ganda dalam membuat penilaian. Contohnya, laki-laki berpeci, atau perempuan berjilbab selalu dipandang “islam” dan mereka yang gondrong dan tidak menutup kepala dipandang “tidak islam”. Sikap apriori seperti demikian telah banyak menjangkit umat Islam, tanpa disadari bahwa formalitas itu ada untuk mendukung substansi, bukan untuk mengelabuhi substansi. Problematika seperti ini hendaknya direnungi secara radikal ketika menyambut hari suci umat Islam.

Idul Fitri ; Hari Raya Kesucian Manusia
Cak Nur dalam bukunya Pesan-pesan takwa ; kumpulan khutbah jum’at di Paramadina (2000) menjelaskan, Idul Fitri artinya hari raya fitrah, hari raya kesucian manusia atau hari kembalinya kesucian kepada kita. Inilah hari raya yang resmi diajarkan oleh agama kita, selain Idul Adha. Sedangkan hari raya atau hari besar Islam yang lain lebih merupakan hasil budaya daripada ajaran agama, seperti Maulid, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, Muharam, dan lain-lain. Berdasar pada hal tersebut, maka sudah seharusnya kita merenungi makna dibalik hari raya keagamaan ini sehingga mengetahui hikmah dan nilai yang ada di baliknya.
Manusia pada dasarnya adalah suci, maka sikap manusia selayaknya menunjukkan sikap-sikap yang suci. Fitrah terikat dengan hanif, artinya suatu sifat dalam diri kita yang cenderung memihak kepada kebaikan dan kebenaran. Zaman boleh berubah, istilah “milenial” boleh dikumandangkan, tapi manusia tetap sama selama-lamanya sesuai dengan desain Allah SWT. Manusia merupakan makhluk yang selalu merindukan kebenaran dan akan merasa damai apabila mendapatkan kebenaran itu.
Hari raya Idul Fitri sebagai puncak pelaksanaan ibadat puasa memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa yaitu untuk menyucikan diri. Hal ini akan kita rasakan jikalau kita berhasil menjalankan ibadat puasa dengan iman, yaitu dengan penuh percaya kepada Allah SWT dan ihtisab, yang berarti mawas diri, menghitung diri sendiri atau introspeksi.
Pahala puasa tidak bergantung pada seberapa jauh kita lapar atau haus. Karena itu kalau kita sedang puasa kemudian lupa, lantas makan atau minum, maka Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk bersyukur kepada Allah SWT dan hal ini tidaklah membatalkan puasa. Bukti lebih jauh bahwa pahala puasa tidak bergantung pada lapar dan dahaga adalah disunatkannya berbuka puasa sesegera mungkin yang disebut ta’jil. Sedangkan sahur disunatkan seakhir mungkin dan Nabi tetap menganjurkan kita untuk sahur sekalipun tidak nafsu dan merasa kenyang. Ini semua menunjukkan bahwa Allah SWT melalui puasa tidak menghendaki kita tersiksa, tetapi menghendaki kita melatih menahan diri.
Konsekuensi pada waktu kita selesai berpuasa yaitu kita ibarat dilahirkan kembali, itulah yang kita rayakan dengan Idul Fitri. Kembalinya fitrah kepada kita, dan kita pun harus tampil sebagai manusia suci dan baik, sebaik-baiknya kepada sesama manusia, juga kepada sesama makhluk. Inilah semangat dari Idul Fitri, semoga kita semua termasuk orang-orang yang kembali ke fitrahnya dan memperoleh kebahagiaan.

Idul Fitri ; Kebahagiaan Dalam Zakat dan Takbir
Cak Nur dalam bukunya 30 sajian rohani ; renungan di Bulan Ramadhan (1998) menjelaskan, setelah berhasil menjalani ibadat puasa dengan baik, orang beriman kemudian dianjurkan untu bertakbir, hal ini diasumsikan seperti seorang muslim yang telah menjalankan ibadat puasa berada dalam kemenangan atau kesucian sehingga yang ada hanya Tuhan dan yang lain dianggap tidak berarti apa-apa, Allah-u Akbar (Allah Maha besar).
Setelah berpuasa juga identik dengan semangat zakat fitrah, yang intinya adalah memberikan kebahagiaan kepada mereka yang tidak berkecukupan. Dalam ungkapan lain, lewat gerakan zakat fitrah, pada hari raya Idul Fitri jangan sampai ada orang yang bersedih dan jangan sampai ada orang yang meminta-minta.
Tunaikan zakat untuk mengurangi beban mereka yang membutuhkan sehingga semuanya dapat meraih kemenangan dengan rasa bahagia dan ungkapkan kemenangan itu melalui gema takbir dimulai pada hari tenggelamnya matahari pada akhir Ramadhan.

Idul Fitri ; Mudik dan Saling Bermaafan
Pandemi yang sedang terjadi membuat pemerintah melarang mudik (pulang kampung), sebagaimana telah menjadi budaya kita ketika merayakan Idul Fitri. Menurut Cak Nur dalam buku yang sama, 30 sajian rohani ; renungan di Bulan Ramadhan (1998), mudik merupakan pelaksanaan perintah ajaran agama, yakni menjadikan Idul Fitri sebagai sarana atau medium bermaaf-maafan setelah menjalani tobat dan meminta maaf atau ampunan kepada Allah SWT. Sebagai sarana meminta maaf, Idul Fitri juga merupakan ajang menjalin silaturahmi, menjalin kasih sayang yang dimulai dengan meminta maaf kepada orang tua dan sanak saudara.
Keadaan yang ada pada hari ini haruslah disikapi secara benar dan bijak oleh mereka yang tinggal berjauhan dari kampung halaman, larangan yang ada haruslah dipatuhi. Benar bahwa mudik dan bermaafan merupakan pelaksanaan ajaran agama, namun sekali lagi bagian terpenting dari sebuah ibadah adalah esensi yang ada di dalamnya bukan pada bentuk formalnya.
Kemajuan teknologi, salah satunya di bidang komunikasi dapat menjadi alternatif bagi mereka yang tidak bisa mudik. Bermaaf-maafan secara virtual ketika diniatkan untuk benar-benar silaturahmi tentunya tidaklah mengurangi esensi yang ada, bentuknya bolehlah berbeda namun jangan sampai kehilangan makna didalamnya.

Idul Fitri ; Shalat di mana ?
Dalam menjalankan ibadat shalat Idul Fitri, di Indonesia juga terjadi keragaman, ada yang melaksanakan di masjid, ada pula yang melaksanakan di lapangan dan pada hari ini umat islam dihadapkan dengan himbauan shalat Idul Fitri di rumah. Menurut Cak Nur sebagaimana ditulisnya pula dalam buku 30 sajian rohani ; renungan di Bulan Ramadhan (1998), masing-masing kelompok terkait hal ini memiliki argumen atau alasan dan itu adalah masalah itjihad. Masalah ini terkadang memang menimbulkan perdebatan atau bahkan saling menyalahkan.
Satu hal yang patut diingat adalah bukan mengenai perkara di dalam masjid, di lapangan, atau di rumah, yang lebih esensial adalah pada tingginya nilai kesadaran diri atau ketakwaan dengan menangkap dan memahami pesan-pesan serta makna di dalam hari raya Idul Fitri.
Sebagaimana dahulu dipertentangkan antara orang Islam dan Kristen berkenaan dengan kiblat atau arah untuk beribadat mereka (saat itu umat Islam masih menghadap ke arah Masjid Aqsa dan atas perintah dan petunjuk Allah SWT, Rasulullah SAW mengganti kiblatnya ke Masjid Haram atau ke arah Ka’bah).
Kasus yang demikian itu akhirnya oleh Al-Qur’an dinilai sebagai meributkan atau mempertentangkan masalah yang tidak substansial, penting atau mendasar. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu beriman kepada Allah…..,” (QS. 2:177).
Kiblat sebagai poros atau pusat hanyalah sebagai simbolisasi dalam menunjukkan kebaktian. Yang terpenting adalah kemampuan menangkap makna pesan-pesan yang sesungguhnya. Sikap merasa dirinya paling baik dan benar, dan sebaliknya menuduh yang lain salah, adalah salah satu indikasi ketidakmampuan memahami pesan-pesan ajaran agama secara benar.

Id al-mubarak, ja‘al-ana ’l-Lah-u wa iyyakum min-a ’l-‘a’idin-a wa ’lfa’izin.


Oleh : Zelig Ilham Hamka